THE LAST
MEMORIE’S
Rasanya
kemarin masih bisa memeluk mu. Kemarin masih bisa melihat punggung mu saat
berjalan membelakangi ku. Kemarin masih bisa berlindung di dalam dekapan dada
mu yang bidang itu. Kemarin itu masih bisa ku hirup aroma tubuh mu ! ku rasa
hari ini hanya lah sebuah mimpi, ya mimpi buruk dalam tidur panjang ku.
Bangunkan aku ya Tuhan, mimpi nya sangat buruk.
“ Kira....... “ suara ku
mengalun pelan dalam kegelapan, memekik lirih dari dalam hati. Seperti rintihan
tersayat ribuan pedang. Tuhan, mimpikah semua ini,?!?!?! Kenapa melihat nya
seperti itu, seperti melihat dia berada jauh dalam jangkauan ku.
**
“ kamu siapa ?!?! maaf, aku....
“ dia terdiam, kemudian memegangi kepala nya. Seperti nya sakit kepala nya
terasa lagi setiap mengingat sesuatu dari masa lalu. Ya, Tuhan...rasa nya
seperti di tampar berkali-kali di tempat yang sama. Bagaimana bisa jadi seperti
ini,?!?! Apa ada yang salah dengan nya, apa kecelakaan itu mengganggu syaraf
nya....
“ Ini, Riana....kamu gak inget
aku ,?! “ ku coba bicara pelan-pelan dengan nya. Dia masih terlihat ketakutan
sambil terus memegangi kepalanya. Ku beranikan diri menggenggam tangan nya,
awal nya dia sangat ketakutan. Tapi ku coba menenangkan nya.
“ Gak papa, aku gak akan
nyakitin kamu. “ dia terlihat lebih tenang. Tubuh nya yang dari tadi gemetaran,
perlahan mulai tenang.
“ aku gak tau...aku siapa ,?!?!
“ apa..bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat. Oh, God...kenapa jadi
seperti ini.
“ aku siapaaaa ?!?! “ dia
berteriak histeris, seperti nya kali ini dia benar-benar kebingungan. Tatapan
matanya mengarah ke segala arah, tak menentu, tak tau mau melihat apa. Nafas
nya ter’engah cepat, dada nya naik turun berpacu cepat.
“ Ok...ok... tenang dulu,
tenang... “ ku peluk dia erat-erat, dia gemetar hebat. Seperti habis melihat
kematian saja,. Ya Tuhan, tenangkan hati nya. 15 menit dia berada dalam pelukan
ku, nafas nya mulai teratur lagi, dia mulai tenang. Kalau dia setenang ini, dia
benar-benar mirip dengan seseorang yang ku kenal.
“ aku siapa ,?!?! “ dia bertanya
lagi...kali ini nada nya lirih, jelas badan nya terasa sangat lemas setelah
gemetar hebat tadi.
“ dengerin aku,... “ ku hadap
kan wajah nya tepat di depan wajah ku. Sehingga mata kami bisa beradu...
“ Aku, Riana....” ucap ku
mempertegas diri. Dia menatap lega, mungkin aku orang pertama yang ia ketahui
nama nya...
“ kamu.... Kira.... “ dia
tersenyum...apa yang membuat nya tersenyum,?!?!
Maafkan aku tuhan, aku sudah
berbohong kepada nya. Aku tau kesalahan ku ini sudah berlipat-lipat. Dari mulai
membuatnya masuk rumah sakit, membuat nya lupa ingatan, sampai berbohong
tentang siapa namanya. Aku terpaksa, aku tidak bisa melihat orang yang sudah ku
lukai akan semakin terluka lagi.
**
“ Kira.... ayo bangun ! “ ku
ketuk pintu kamar nya, sudah siang begini kenapa belum turun juga sih.
“ Kira...kamu udah bangun kan...
“ 2menit belum juga ada jawaban, ketuk-ketuk pintu kamar nya. Dia masih belum
menjawab, aku khawatir....
“ iya maaf.... “ baru mau ku
buka dengan kunci cadangan, dia sudah keluar..
“ kamu Ok ,?!?! Muka kamu pucet
banget...ayo sini aku liat dulu. “ Ku tarik dia masuk ke dalam..dia diam saja,
masih sama seperti pertama kali bertemu di rumah sakit.
Badan nya memang sedikit demam,
itu alasan nya kenapa hari ini aku mengajak nya check up ke rumah sakit.
“ I’m ok.... “ dia merebahkan
tubuh nya ke kasur, mata nya yang sayu mulai terpejam. Ini masih pagi, kenapa
sudah mau tidur lagi saja.
“ Kira ! hari ini ada jadwal
check up kedokter.. “ ku terik tubuh nya, dia malah menggeliat menjauhi ku. Hmmm,
ayolah....
“ aku pusing, bisa nanti siang
aja gak..” baiklah. Aku ngalah...
Sudah
mau jam 3 dia belum turun juga, tidak makan siang...bahkan makanan tadi pagi
saja tidak di makan.
“ Kira.... “ ku buka pintu kamar nya. Dia masih
bersembunyi di balik selimut tebal nya.
“ aku demam... “ ucap nya
lirih... akh, kenapa sih harus selalu nyusahin begini.
Bibik masih sibuk bolak-balik
ambil air hangat puat kompres demam nya, aku Cuma sibuk ngeliatin dia. Apa dia
sakit karena hal lain....
“ Non, demam nya udah mulai
turun koq. Bibik ke belakang dulu ya nyiapin bubur buat mas Kira... “ hanya
kami berdua saja. Wajah nya kelihatan pucat, mata sayu nya tidak pernah
berubah..nafas nya masih ter’engah-engah.
“ Mom.....” apa,,,, Mom,?!?! Apa
dia mengingat sesuatu. Dalam waktu secepat ini,?!?! Syukurlah.....
“ Kira, are you Ok, ?!?! “ ku
belai rambut nya pelan. Dia membuka matanya, menatap ku lega.
“ apa kamu inget sesuatu,?!?! “
dia masih tidak menjawab....
“ aku pusing.... “ dia
memindahkan kepala nya di pangkuan ku. Meletakan tangan ku di dada nya dan
mendekap nyanya. Ya Tuhan, ada perasaan aneh yang menyergap hati ku seketika.
Ku pijit kepala nya pelan, dia tertidur lagi. Memanggil-manggil mom lg. Apa dia
rindu ibu nya,?!?!
Pagi-pagi
sudah ku siapkan makanan untuk nya, sudah cukup seharian kemarin dia tidak
makan sama sekali. Tidak mau minum, tidak mau makan....bagaimana bisa cepat
sembuh kalau obat nya saja tidak di minum.
“ Mmm, aku lapar... “ hahaha,
kadang-kadang kata-kata nya yang sepolos itu selalu bisa membuat ku tertawa
geli.
“ Akhirnya ngerasa lapar juga.
Aku suapin ya... “ seperti nya benar-benar lapar, dia melahap habis makanan
nya. Bahkan susu nya saja di habiskan semua. Bagus lah....
Rumah
ini terlalu sepi kalau hanya di tempati oleh ku, bibik dan juga mang Ujo. Di
tinggali fasilitas sebanyak ini, usaha sebesar ini, materi sebanyak ini, tetap
saja merasa sangat kesepian. Apalagi, selain kuliah aku juga harus mulai
belajar mengurus perusahaan peninggalan papah. Hidup ku monoton, sudah di
tinggal mamah sejak usia ku masih 10 tahun. Dan sekarang, ada dia disini, bisa
menambah ramai suasana dirumah ini. Ada teman yang bisa ku ajak berkelahi, ada
teman yang bisa ku perhatikan, ada teman yang bisa ku ajak bercanda. Apalagi
setelah keadaan nya mulai membaik, aku merasa tidak mau kehilangan dia lagi.
“ Jelek !!!! “ auwww... ini yang
paling aku gak suka dari dia. Kalau aku lagi ngelamun selalu aja curi-curi
kesempatan buat narik-narik idung aku.
“ Sakit Kira.. ikkkhhh ! “ ku
cubit pinggang nya cukup keras, dia Cuma nyengir lalu memegangi kedua tangan
ku.
“ apa ?!?!?! “ ku sandarkan
kepala ku di dada nya yang bidang. Saat seperti ini selalu bisa ku hirup aroma
tubuh nya yang khas,,,aku selalu merindukan dia setiap mengingat aroma ini.
“ aku tau, aku gak akan bisa ingat
apapun tentang masa lalu ku. Riana, apa dulu aku memiliki keluarga.... “
degggg, pertanyaan itu lagi. Kali ini aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan
nya yang satu ini. Aku tau, dokter memang mengatakan dia tidak bisa mengingat
apapun dari masa lalu nya, tapi harus kah ku jadikan dia sama seperti sosok
itu. Meski aku tau, mereka berdua sangat jauh berbeda;....
“ aku gak tau... kamu gak pernah
cerita apapun. Yang aku tau, kamu hanya sendiri disini. “ dia mengernyitkan
dahi nya. Aku tau dia kecewa,. Yang ku tau tentang kamu Cuma, aku sering
melihat mu bersama anak-anak jalanan itu memainkan gitar mu di pinggiran jalan
kota Bandung. Mengetuk 1pintu mobil ke pintu mobil lain nya. Salahkah jika ku
jawab seperti itu Tuhan ?!?!?! maaf.... Dia beranjak dari duduk nya, ngeloyor
pergi entah kemana... aku tau aku salah
“ Non, sudah malam.. apa gak mau
makan ?!?! nanti sakit...” sudah mau jam 11 malam. Kira juga tidak menemui ku
lagi setelah tadi sore. Aku tidak berani mengganggu nya.... entah kenapa aku
takut menghadapi dia yang sedang marah, kecewa....
“ beresin aja bi makanan nya.
Siapin aja di piring, buat Kira. Nanti aku yang anter ke kamar nya.. “ kalau
tidak di perhatikan seperti ini dia selalu saja lupa makan. Selalu lupa meminum
obat nya.....
“ tok...tok...tok...” ku ketuk
pintu kamar nya. Apa dia sudah tidur ya...
“ Kira, kamu udah tidur,?!?!
Kamu belum makan, obat kamu juga belum di minum kan. “ ku buka sedikit pintu
nya, dia ada. Berdiri diam di jendela kamar nya...terlihat sangat sweat dengan
pose seperti itu.
“ Kira.... “ ku sentuh pundak
nya. Dia memalingkan wajah, ada bekas darah di dekat hidung nya. Apa dia
mimisan lagi...
“ Riana, aku... “ dia limbung.
Tubuh nya terhuyung ke arah ku..di tangan nya juga ada bekas darah. Ya Tuhan,
sudah ku katakan jangan memaksakan diri untuk mengingat apapun yang tak bisa di
ingat lagi.
Sudah
hampir dua jam aku menunggu nya di ruang ICU..dia terlihat sangat menderita.
Aku tau, semua ini salah ku...membiarkan dia tidak mengetahui apapun tentang
diri nya, memaksanya untuk tetap bersama ku. Padahal mungkin jiwa nya ingin
sekali kembali ke kehidupan nya yang dulu..yang bebas...
“ maaf, bisa bicara di ruangan
Om sayang... “ Om Ridwan, dokter sekaligus Om ku satu-satu nya.
“ ya Om... “ ku ikuti ke ruangan
nya. Kami masih saling diam, dia tau aku sangat amat merasa kesepian sebelum
bertemu Kira. Dia tau, bahwa aku mungkin akan sangat merasa kehilangan, “
kenapa.... “ ku paksa dia berbicara,,,,
“ Om harus jujur sama kamu...
dia sakit Riana... jantung nya akan terus melemah. “ lagi....apakah semua orang
yang ku kenal harus bersiap pergi meninggalkan ku lagi.
“ Engga Om.....” aku mencoba
menyangkal nya. Tapi jelas hasil rontgen dan pemeriksaan menyatakan bahwa
jantung nya memang lemah. Paru-paru nya mulai bermasalah....
“ cepat atau lambat dia pasti
akan pergi jika tidak mendapat perawatan yang tepat. “ maksud nya....ya aku
mengerti sekarang.
“ kita akan melakukan nya kan
Om... aku gak mau lagi..jangan lagi Om. Cukup mamah sama papah yang ninggalin
Riana.... “ aku menangis, ini pertama kali nya aku menangis setelah sekian lama
semenjak kepergian papah.
Jepang
di akhir Desember ini mulai membeku....udara nya bisa mencapai minus lima
derajat. Sudah dua bulan disini, ini adalah musim dingin pertama ku di Jepang.
Lorong rumah sakit sudah ramai dengan pasien ataupun keluarga pasien yang
berkunjung. Langkah ku di percepat mengingat sudah lebih dari 1jam aku
meninggalkan nya sendiri....
“ Kira.... “ ku buka pintu kamar
nya perlahan. Dia masih terlelap, selang oksigen masih terpasang membantu nya
bernafas. Cairan infus nya mulai turun setetes demi setetes ke dalam tubuh nya.
Layar monitor di sebelah kiri nya masih menunjukan detak jantung nya yang mulai
stabil....ada banyak alat yang terpasang di tubuh nya. Aku tidak tau, yang
jelas hanya ini yang bisa ku lakukan....
“ selamat pagi..pasti dokter
tadi udah periksa kamu ya. Kata dokter kemungkinan kamu sadar sudah semakin
besar...operasi transpaltasi jantung nya berjalan lancar. Ayo bangun, nanti
biar ku buat memori baru dalam hidup mu. “ ku sentuk jemari tangan nya,
berharap akan ada respon. Hampir satu jam aku bicara panjang lebar dengan nya.
Tapi tidak ada reaksi apa pun. Aku menyerah, mungkin hari ini tidaka berhasil
membuat nya sadar....
“ aku keluar sebentar ya...”
rasa nya kepala ku berdenyut kencang, argh...rasa nya menyakitkan sekali
melihat keadaan nya seperti itu. Sudah sekian lama tidak sadarkan diri, membuat
ku berfikir banyak. Tuhan, aku tau aku salah..tapi jangan hukum aku seperti
ini.
“ Ri.... “ apa dia memanggil ku.
Oh, God...apakah dia mulai sadarkan diri.
“ ya, aku disini...ayo buka mata
kamu....” ku genggam tangan nya erat. Perlahan-lahan dia mulai membuka mata
nya. Satu senyuman manis dari nya mengawali pagi ini....
“ Thanks...udah mau bertahan
sampai sejauh ini. “ ku bisikan kalimat itu pelan sebelum dokter memeriksa
keadaan nya...
“ keadaan nya cukup baik ! tapi
harus tetap di pantau...tolong segera mengkonfirmasi jika ada perkembangan lain
nya Nona.... “ dokter selesai memeriksa keadaan nya. Bukankah ini pagi ang
indah...
“ aku mimpi... “bisik nya
pelan...
“ apa ?!?!? “ dia tersenyum
lemah mungkin melihat expresi wajah ku yang sangat penasaran.
“ aku hidup dengan mu, di satu
tempat yang sederhana, dengan seorang bayi mungil dalam dekapan mu... “ sweat
dream,,,masih sempat-sempat nya gombal di saat-saat seperti ini.
“ tapi aku tau, itu gak akan
terjadi. Aku dengar semua nya selama ini, aku tau keadaan ku tidak cukup kuat
untuk menguatkan mu suatu hari nanti... “ dia serius, ku peluk dia lembut..aku
tak percaya dia mengatakan nya.
“ bukan nya udah aku bilang,
akan aku buat memori yang baru mulai detik ini. Akan kita isi memori itu
tentang kita...tentang semua hal manis itu. Masa lalu biarkan saja menjadi masa
lalu...kamu hidup untuk masa depan.... “ ku kecup tangan nya. Biarkan lah, ini
adalah jalan yang kami pilih. Aku tidak takut untuk kehilangan, karena dia
mengajarkanku tentang menghargai hidup, mengajarkan ku tentang menikmati hidup.
“ aku sayang kamu...ajari aku
mengingat bagaimana caranya mencintai kamu...” dia berbisik pelan. Thanks
God,,mungkin ku awali dengan kesalahan. Tapi tak akan ku tutupi dengan
kesalahan-kesalahann lain nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar