SAYANG
Pernahkah kamu mempertanyakan, apa
yang ku rasakan saat ini setelah kamu
menghilang dari hari-hari ku. Atau, pernahkah kamu bertanya apa yang ku mau
setiap kali aku merindukan mu. Bahkan untuk kata-kata terakhir pun kamu enggan
untuk menemui ku, enggan untuk mengucapkan sepatah kata saja untuk ku. Kamu
hanya terdiam, memalingkah wajah itu dari tatapan ku, kamu melarikan diri dari
setiap pertanyaan-pertanyaan yang bergemuruh hebat di dada ku. Kamu
meninggalkan aku dalam ketidakpastian ini….
“ Jia ! “ seseorang itu menatap ku
yakin. Seperti sudah mengenal ku sangat lama, padahal aku sama sekali tidak
mengenalnya. Benarkah ?! atau aku yang sengaja melupakannya…
“ Yups ! siapa ya ? “ ku coba
menyelidikinya, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Ragu aku menyambutnya,
tapi apa salahnya berkenalan.
“ Brian ! “ what !!! sekian lamanya,
sebesar ini kah perubahannya. Oh my God ! bahkan aku saja mungkin tidak mengalami perubahan apa-apa.
“ Wow ! It’s surprise. Beda banget ! “
berbeda atau boleh ku katakana kamu mengingatkan ku pada seseorang. Ach, kisah
lama.
“ Kamu juga ! tambah cantik… “ hahaha,
gombal. Ku tarik dia duduk di sebelah ku, dia terus saja mengoceh sepanjang
hari ini. Bukannya merasa keberatan, tapi aku merasa sangat senang sekali
mendengarkan cerita-ceritanya. Mungkin ! atau, aku senang memperhatikannya
karena dia semakin mirip dengan seseorang itu.
“ Jia, are you Ok ?!?! “ hmm, dia sudah
berhenti mengoceh.
“ Ops, sori ! hehehe “ malunya, karena
ketauan memperhatikan dia. Aku senang bisa bertemu dengannya, setidaknya bisa
menghilangkan rasa jenuh ku.
“ Bye Brian ! seneng bisa ngobrol
banyak ! “ kami berpisah. Aku harus ke toko buku hari ini dan dia, entah ada
kesibukan apa. Yang pasti dia mengembalikan ingatan ku pada seseorang itu.
Semakin lama di perhatikan justru semakin mirip saja mereka berdua itu.
Haruskah
ku ingat lagi semua cerita yang sengaja ku kubur sangat dalam di lubuk hati ku
ini ?! karena setiap kali aku mengingatnya justru aku merasa sangat kesal
kepada mu. Berani-beraninya kamu melakukan semua hal itu kepada ku. Dasar
manusia tidak berperasaan, tidak romantis dan juga tidak peka. Apa tidak tau,
kalau waktu itu aku ingin sekali menemani kamu untuk yang terakhir kalinya.
“ Sayang !
mungkinkah kamu akan datang untuk menepati janji kamu ?!?! ini sudah hampir
waktunya, tapi kamu tidak juga kembali. “ bodoh ! untuk apa bertanya begitu.
Sudah jelas dia memang tidak mungkin akan kembali. Dia sudah terlalu jauh
meninggalkan aku sendirian disini, selama bertahun-tahun tanpa kepastian.
“ Jia ! jangan kamu pelototin aja foto
Rian. Cepetan belajar, katanya besok ada ujian. “ ya, tidak ada gunanya menatap
wajah kamu yang nyebelin itu, gak ada gunanya bicara dengan foto. Mendengar pun
mungkin tidak…. Konyol !!!
Sudah hampir satu jam aku membolak-balik
buku ini, tapi konsentrasi ku masih juga tidak bisa terfokus. Semua ini
gara-gara Brian ! sial, kenapa sich datang waktu aku sangat membutuhkan waktu
untuk berkonsentrasi menghadapi ujian.
“ Brian nyebelin ! “ aku ingin sekali
menghajar dia. Ach, menyebalkan.
“ Ngapain teriak-teriak ! berisik tau…
“ apa, bisa-bisanya dia sms begitu. Salah dia rumahnya deket-deket sama aku.
“ Bawel ! gara-gara kamu aku gak bisa
konsen belajar. Awas aja kalau besok hasil ujian ku jelek, kamu yang tanggung
jawab. “ apa yang dia fikirkan ya,,,,
“ gara-gara aku ?! apa karena aku
ingetin kamu sama Rian ?! maafin aku… “ Rian ! hah, kenapa dia harus menyebut
nama itu. Kenapa justru mengingatkan ku pada dia…
“ Jia ! “ ku dengar bisik suaranya.
Kenapa semua tentang kamu begitu melekat erat pada Brian ?! wajah kamu, senyum
kamu, cara kamu menatap ku, cara kamu melarikan diri dari aku, cara bicara kamu
sama aku, bahkan suara kalian terdengar sama di telinga ku. Apa kamu ingin aku
mengingat lagi betapa jahatnya kamu waktu itu Rian ?! kamu gak mau untuk
sekedar ketemu sama aku, bahkan untuk melihat kamu yang terakhir kalinya saja
kamu enggan. Kamu seolah menghilang untuk saat terakhir kamu. Aku tidak bisa
untuk menangis hari itu, seolah air mata ku kering karena semua sikap mu. Terakhir
kali aku melihat kamu, waktu kita bertemu di bangku taman itu.
“ Apa ?! “ suara ku terdengar sangat
pilu. Entah bagaimana caranya dia bisa berada di sebelah ku. Dia tersenyum,
senyum yang selalu membuat ku merasa sangat sakit. Bahkan sejak di rumah sakit
saja dia tidak mengijinkan aku untuk menjenguknya ! hanya bisa melihat dia di
balik pintu. Melihat dia merintih kesakitan, melihat dia melawan penderitaannya
itu sendirian saja. Seolah aku tidak ada gunanya….
“ Masih marah sama Rian ?! “ marah, tentu saja. Dia berjanji
untuk menemui ku saja hanya lewat telepon. Ku pikir dia menelepon untuk meminta
ku menemaninya, tapi dia justru melarang ku menemui nya dan berjanji seperti
itu. Janji apa, bakhan dia tidak menepatinya.
“ Udahlah Brian ! ini gak ada gunanya,
dia udah gak ada. Biar dia cukup hidup di hati ku aja…” Brian menyentuh kepala
ku, menariknya merapat di dada. Jantungnya berpacu sangat cepat, dia mengecup
ku perlahan. Beraninya dia….
“ Jia ! “ dia memanggil ku lagi. Kali
ini dengan intonasi yang lain, seperti tidak asing. Seperti dia sudah biasa
mengucapkannya !
“ ya, Rian ! “ apa ?!?! kenapa ku sebut
nama itu. Tapi intonasi seperti itu memang biasa di ucapkan Rian jika dia
sedang sangat ingin di perhatikan.
“ Bisakah kamu merasakannya ?!?! detak
jantung ini, semua kebiasaan ini ? maafin aku Jia,.. “ mungkinkah ? tapi
seperti tidak mungkin. Bagaimana bisa semua ini terjadi…. Tidak mungkin.
“ Mungkinkah ?!?! “ ku angkat kepala
ku, dia menatap ku lagi, dengan tatapan yang sama.
“ Ya ! “ jawabnya lirih. Ku rasakan
sesuatu menyentuh bibir ku lembut, mendesah pelan, ku peluk ia sangat erat.
Enggan sekali untuk melepaskannya ! kerinduan ku selama ini, penantian ku… dia
tidak memberikan aku waktu untuk bertanya hal-hal bodoh di kepala ku. Merengguh
tubuh ku semakin kuat, aku merasakan semua kerinduannya, semua beban yang ia
tanggung sendirian.
“ Kemana saja ?! “ ku beranikan diri bertanya. Dia hanya
tersenyum, mengecup kening ku dan menarik ku kembali dalam pelukannya.
“ Permintaan terakhir Brian, sayang !
terlalu panjang ceritanya, dan aku gak mau buang-buang waktu Cuma buat cerita
itu. Aku Cuma punya waktu buat kamu ! “ ach, membuat penasaran. Tapi cepat
terganti dengan perasaan lain, perasaan yang tercipta seketika saja. Aku
merasakannya, setiap gerakan tangannya yang melingkari tubuh ku. Bolehkah ?!
kali ini saja, aku ingin melepaskan semua kerinduan ku.
“ aku mohon, temani hidup ku sampai
akhir ! “ apakah dia sedang meminta ku untuk menjadi pendamping hidupnya.
Benarkah ini, atau ini hanya mimpi ?1
“ Rian ! “ bisik ku lirih. Dia menarik
ku ke atas dadanya, menatap mata ku tajam, merebahkan ku di bawah dadanya yang
bidang, aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang khas.
“ Ya, sayang ! jadilah pendamping hidup
ku… “ dia mengatakannya dengan gamblang.
“ Makasih . “ ucap ku lirih. Malam ini, biarlah
berlalu begini adanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar