Jumat, 29 Maret 2013

sayang



SAYANG


Pernahkah kamu mempertanyakan, apa yang  ku rasakan saat ini setelah kamu menghilang dari hari-hari ku. Atau, pernahkah kamu bertanya apa yang ku mau setiap kali aku merindukan mu. Bahkan untuk kata-kata terakhir pun kamu enggan untuk menemui ku, enggan untuk mengucapkan sepatah kata saja untuk ku. Kamu hanya terdiam, memalingkah wajah itu dari tatapan ku, kamu melarikan diri dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang bergemuruh hebat di dada ku. Kamu meninggalkan aku dalam ketidakpastian ini….

“ Jia ! “ seseorang itu menatap ku yakin. Seperti sudah mengenal ku sangat lama, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Benarkah ?! atau aku yang sengaja melupakannya…

“ Yups ! siapa ya ? “ ku coba menyelidikinya, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Ragu aku menyambutnya, tapi apa salahnya berkenalan.

“ Brian ! “ what !!! sekian lamanya, sebesar ini kah perubahannya. Oh my God ! bahkan aku saja mungkin tidak  mengalami perubahan apa-apa.

“ Wow ! It’s surprise. Beda banget ! “ berbeda atau boleh ku katakana kamu mengingatkan ku pada seseorang. Ach, kisah lama.

“ Kamu juga ! tambah cantik… “ hahaha, gombal. Ku tarik dia duduk di sebelah ku, dia terus saja mengoceh sepanjang hari ini. Bukannya merasa keberatan, tapi aku merasa sangat senang sekali mendengarkan cerita-ceritanya. Mungkin ! atau, aku senang memperhatikannya karena dia semakin mirip dengan seseorang itu.

“ Jia, are you Ok ?!?! “ hmm, dia sudah berhenti mengoceh.

“ Ops, sori ! hehehe “ malunya, karena ketauan memperhatikan dia. Aku senang bisa bertemu dengannya, setidaknya bisa menghilangkan rasa jenuh ku.

“ Bye Brian ! seneng bisa ngobrol banyak ! “ kami berpisah. Aku harus ke toko buku hari ini dan dia, entah ada kesibukan apa. Yang pasti dia mengembalikan ingatan ku pada seseorang itu. Semakin lama di perhatikan justru semakin mirip saja mereka berdua itu.



            Haruskah ku ingat lagi semua cerita yang sengaja ku kubur sangat dalam di lubuk hati ku ini ?! karena setiap kali aku mengingatnya justru aku merasa sangat kesal kepada mu. Berani-beraninya kamu melakukan semua hal itu kepada ku. Dasar manusia tidak berperasaan, tidak romantis dan juga tidak peka. Apa tidak tau, kalau waktu itu aku ingin sekali menemani kamu untuk yang terakhir kalinya.

“ Sayang ! mungkinkah kamu akan datang untuk menepati janji kamu ?!?! ini sudah hampir waktunya, tapi kamu tidak juga kembali. “ bodoh ! untuk apa bertanya begitu. Sudah jelas dia memang tidak mungkin akan kembali. Dia sudah terlalu jauh meninggalkan aku sendirian disini, selama bertahun-tahun tanpa kepastian.

“ Jia ! jangan kamu pelototin aja foto Rian. Cepetan belajar, katanya besok ada ujian. “ ya, tidak ada gunanya menatap wajah kamu yang nyebelin itu, gak ada gunanya bicara dengan foto. Mendengar pun mungkin tidak…. Konyol !!!

Sudah hampir satu jam aku membolak-balik buku ini, tapi konsentrasi ku masih juga tidak bisa terfokus. Semua ini gara-gara Brian ! sial, kenapa sich datang waktu aku sangat membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi menghadapi ujian.

“ Brian nyebelin ! “ aku ingin sekali menghajar dia. Ach, menyebalkan.

“ Ngapain teriak-teriak ! berisik tau… “ apa, bisa-bisanya dia sms begitu. Salah dia rumahnya deket-deket sama aku.

“ Bawel ! gara-gara kamu aku gak bisa konsen belajar. Awas aja kalau besok hasil ujian ku jelek, kamu yang tanggung jawab. “ apa yang dia fikirkan ya,,,,

“ gara-gara aku ?! apa karena aku ingetin kamu sama Rian ?! maafin aku… “ Rian ! hah, kenapa dia harus menyebut nama itu. Kenapa justru mengingatkan ku pada dia…

“ Jia ! “ ku dengar bisik suaranya. Kenapa semua tentang kamu begitu melekat erat pada Brian ?! wajah kamu, senyum kamu, cara kamu menatap ku, cara kamu melarikan diri dari aku, cara bicara kamu sama aku, bahkan suara kalian terdengar sama di telinga ku. Apa kamu ingin aku mengingat lagi betapa jahatnya kamu waktu itu Rian ?! kamu gak mau untuk sekedar ketemu sama aku, bahkan untuk melihat kamu yang terakhir kalinya saja kamu enggan. Kamu seolah menghilang untuk saat terakhir kamu. Aku tidak bisa untuk menangis hari itu, seolah air mata ku kering karena semua sikap mu. Terakhir kali aku melihat kamu, waktu kita bertemu di bangku taman  itu.

“ Apa ?! “ suara ku terdengar sangat pilu. Entah bagaimana caranya dia bisa berada di sebelah ku. Dia tersenyum, senyum yang selalu membuat ku merasa sangat sakit. Bahkan sejak di rumah sakit saja dia tidak mengijinkan aku untuk menjenguknya ! hanya bisa melihat dia di balik pintu. Melihat dia merintih kesakitan, melihat dia melawan penderitaannya itu sendirian saja. Seolah aku tidak ada gunanya….

“ Masih marah sama  Rian ?! “ marah, tentu saja. Dia berjanji untuk menemui ku saja hanya lewat telepon. Ku pikir dia menelepon untuk meminta ku menemaninya, tapi dia justru melarang ku menemui nya dan berjanji seperti itu. Janji apa, bakhan dia tidak menepatinya.

“ Udahlah Brian ! ini gak ada gunanya, dia udah gak ada. Biar dia cukup hidup di hati ku aja…” Brian menyentuh kepala ku, menariknya merapat di dada. Jantungnya berpacu sangat cepat, dia mengecup ku perlahan. Beraninya dia….

“ Jia ! “ dia memanggil ku lagi. Kali ini dengan intonasi yang lain, seperti tidak asing. Seperti dia sudah biasa mengucapkannya !

“ ya, Rian ! “ apa ?!?! kenapa ku sebut nama itu. Tapi intonasi seperti itu memang biasa di ucapkan Rian jika dia sedang sangat ingin di perhatikan.

“ Bisakah kamu merasakannya ?!?! detak jantung ini, semua kebiasaan ini ? maafin aku Jia,.. “ mungkinkah ? tapi seperti tidak mungkin. Bagaimana bisa semua ini terjadi…. Tidak mungkin.

“ Mungkinkah ?!?! “ ku angkat kepala ku, dia menatap ku lagi, dengan tatapan yang sama.

“ Ya ! “ jawabnya lirih. Ku rasakan sesuatu menyentuh bibir ku lembut, mendesah pelan, ku peluk ia sangat erat. Enggan sekali untuk melepaskannya ! kerinduan ku selama ini, penantian ku… dia tidak memberikan aku waktu untuk bertanya hal-hal bodoh di kepala ku. Merengguh tubuh ku semakin kuat, aku merasakan semua kerinduannya, semua beban yang ia tanggung sendirian.

“ Kemana saja ?! “  ku beranikan diri bertanya. Dia hanya tersenyum, mengecup kening ku dan menarik ku kembali dalam pelukannya.

“ Permintaan terakhir Brian, sayang ! terlalu panjang ceritanya, dan aku gak mau buang-buang waktu Cuma buat cerita itu. Aku Cuma punya waktu buat kamu ! “ ach, membuat penasaran. Tapi cepat terganti dengan perasaan lain, perasaan yang tercipta seketika saja. Aku merasakannya, setiap gerakan tangannya yang melingkari tubuh ku. Bolehkah ?! kali ini saja, aku ingin melepaskan semua kerinduan ku.

“ aku mohon, temani hidup ku sampai akhir ! “ apakah dia sedang meminta ku untuk menjadi pendamping hidupnya. Benarkah ini, atau ini hanya mimpi ?1

“ Rian ! “ bisik ku lirih. Dia menarik ku ke atas dadanya, menatap mata ku tajam, merebahkan ku di bawah dadanya yang bidang, aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang khas.

“ Ya, sayang ! jadilah pendamping hidup ku… “ dia mengatakannya dengan gamblang.
“ Makasih . “ ucap ku lirih. Malam ini, biarlah berlalu begini adanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar