JANJI
CINTA UNTUK CINTA
Rasanya
masih terasa sangat sesak setiap kali mengingat kejadian-kejadian hari itu.
Bagaimana bisa semua itu terjadi ?!?! padahal rasanya baru sebentar saja dia
bisa merasakan kehadiran Raihan di sampingnya, tapi sejurus kemudian dia
tersadar semua itu hanyalah khayalannya semata….
‘ Engga ! ini
gak mungkin…. “ pekiknya lirih. Lidahnya terasa sangat kelu, hingga dia tidak
bisa mengucapkan kata-kata lagi. Kelopak matanya yang sejak tadi memang sudah
memanas, kini mulai meluapkan teter-tetes bening yang mengalir perlahan di
kedua pipinya. Hatinya yang teriris dan tersayat tipis, terasa sangat pedih.
“ Ini
kenyataannya, lo sama dia, bukan untuk bersama ! tolong ikhlasin dia… dia udah
sangat menderita . dia juga gak ingin tinggalin lo sendirian, tapi ini memang
udah waktunya, Keisha. “ gadis itu terdiam sejenak, mengusap air mata yang
seakan tak pernah ingin kering.
“ Gue….. hiks… “
dia kembali menangis, mengurungkan niatnya. Tubuhnya terasa sangat dingin, beku
dalam kepedihannya.
“ Untuk dia,
Keisha ! ikhlasin dia… “ Revan menarik tangan kiri Keisha lembut, mengajaknya
menemui Raihan. Kerongkongannya terasa sangat kering, hingga rasanya sangat
sakit. Tangis yang sedari tadi di tahannya, pedih yang sengaja ia kubur sesaat
hanya untuk menemui Raihan, kini seakan ingin menyeruak keluar. Sebisa mungkin
ia menetralkan perasaan itu, ia hanya ingin melihat Raihan merasa tenang
meninggalkannya sendirian. Tanpa rasa takut bahwa ia akan menjadi sangat rapuh
tanpa orang yang sangat di sayanginya.
“ Gue datang Han
! “ ucapnya lirih dengan suara serak penuh kepedihan. Di cobanya tersenyum
senatural mungkin, tersenyum untuk menenangkan hati Raihan.
“ Sori ! kalau
nanti gue gak bisa tepatin janji gue ya Key…. “ Keisha mengangguk, membiarkan
kekasihnya itu menatap wajahnya lekat-lekat untuk yang terakhir kali. Perlahan
tapi pasti, genggaman tangan Raihan mulai terlepas, dan perlahan pula isak
tangis Keisha memecah di dalam keheningan yang tercipta. Semua terdiam, hanya
ada isak tangis Keisha yang terdengar di dalam ruangan itu. Isak tangis yang
penuh luka dan kepedihan, tangis yang penuh dengan semua rasa penyesalan,
tangis yang mengantarkan kekasihnya beristirahat dengan tenang. Tangis yang
mengantarkan Raihan berada tenang dalam dekapan bumi, tangisan yang mengakhiri
semua mimpi-mimpi indah mereka. Keisha terdiam, pandangannya mulai memudar
ketika tanah merah itu mulai mendekap erat Raihan dalam keabadian.
“ Tenang Key ! “
ucap Revan lirih menangkap tubuh lemah Keisha yang limbung terhuyung ke
belakang. Dia terus menangis, menangis dalam semua perasaan yang membuat
dadanya kian terasa nyeri.
Gerimis malam ini semakin mengiris
perasaan kehilangan Keisha ! di ruangan lain, Revan terhenyak mengingat semua
kata-kata Reihan. Dadanya memang masih terasa sangat sakit, jika mengingat apa
penyebab adik nya meninggalkan mereka dengan sangat cepat.
“
Please, gue gak mau dia terluka Van ! “ pesan
terakhir Raihan, semakin membuatnya teriris dalam. Harus bagaimana menjaga
orang yang sangat di sayangi adik nya itu…..
“ Gue harus
gimana ?!?! “ desahnya pelan dalam
gerimis yang kian memudar dalam kegelapan.
Revan masih terlelap dalam balutan kegelapan
! semalaman dia terjaga, dan baru satu jam dia memejamkan matanya, setelah
serangkaian kejadian hari ini yang membuat hatinya lelah. Akhirnya dia menyerah
juga dengan rasa kantuk yang menyergap kedua matanya yang lelah terjaga.
“ Bangun Ka !
apa loe gak mau kirimin gue do’a… “ Revan tersentak. Secepat mungkin dia
tersadar, menatap sekelilingnya… suara Reihan. Dia sangat yakin itu suara
adiknya…..
Di lihatnya, jam
sudah menunjukan pukul 04.50 ! dia segera terbangun dan mengambil air wudhu.
Dia terduduk, membaca setiap ayat-ayat yang terukir rapih dalam al-qur’an. Dia
masih terduduk di atas sajadah nya, perlahan kantuk kembali menyergapnya.
‘ Makasih ya kak
! “ dia tersentak lagi, lagi-lagi suara Raihan. Ach, mungkin hanya imajinasinya
saja karena baru kehilangan Reihan.
Revan standby di depan Sekolah
Keisha, menunggu gadis itu keluar dari Sekolah. Dia harus bisa menepati
janjinya kepada Reihan… meski pun kekasihnya mungkin akan sangat marah jika
mengetahui dia lebih memilih menjemput gadis lain dari pada dirinya. Keisha
mulai terlihat keluar dari gerbang, matanya terus mencari. Dan dia tersenyum
tipis menemukan apa yang ia cari.
“ Kenapa kakak
yang jemput ?! Reihan kemana…. “ gadis itu, dia masih belum bisa menerima
dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Perlahan sinar matanya mulai memudar,
mungkin kesadarannya sudah kembali. Reihan sudah tidak ada….
“ udahlah, ayo !
“ Keisha ragu, tapi cepat ia menurut saja.
“ Reihan, apa
yang kamu mau dari aku dan kak Revan ?!?! aku tau, kamu mengetahui semua masa
lalu dari perasaan ku sebelum mengenal kamu, tapi sadarkah kamu, kini hati ku
hanya milik kamu. “ bisik Keisha lirih dalam hati. Sebisa mungkin ia menolak
untuk mengembalikan perasaannya kepada Revan, meski jelas sangat jelas bahkan
apa maksud dari keinginan Reihan.
“ kita makan
dulu ya ! aku yakin, kamu pasti belum makan dari hari itu…. “ Revan berucap
lirih. Keisha diam, tanpa ada niat untuk menjawab.
Keisha hanya
mengaduk-aduk makanan di atas piringnya ! jangankan untuk makan, untuk hidup
pun dia sangat enggan untuk melanjutkannya. Rasa kehilangannya, lebih besar
dari pada rasa lapar atau rasa lelah yang menyergap tubuhnya.
“ Makan Key, dia
Cuma gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu ! jangan kamu buat dia gak
tenang disana…. “ gadis itu tertunduk. Ada tetesan air yang terjatuh di telapak
tangannya… dia tau, setiap mengingat Reihan pasti rasa nyeri itu akan timbul
kembali.
“ Aku gak bisa
kak ! hati ku masih sangat letih dan sakit…..” Revan beranjak dari duduknya,
menghampiri gadis itu, mengambil makanan di depan Keisha, memegang dagu Keisha
lembut dan mengangkatnya…..
“ Biar aku yang
paksa kamu makan ! aku udah janji bakal jagain kamu… aku gak mau sampe kamu
sakit. “ Keisha terpaksa menelan suapan pertama dari Revan. Tapi kemudian
hatinya bergemuruh hebat, disaat seperti ini bisa-bisanya perasaan itu hadir
kembali. Diantara rasa sakit, kepedihan , kehilangan, kesepian, dan kebekuan,
bisa-bisanya perasaan itu muncul menyeruak bersamaan dengan semua sikap Revan
yang dingin tapi penuh rasa khawatir.
“ Udah Kak ! “
Keisha meninggalkan Revan sendirian,,,, cowok itu hanya tertegun, dia tau apa
yang dirasakan oleh Keisha. Perasaan yang bisa membuat gadis itu semakin merasa
bersalah….
Gerimis pagi ini sudah turun sejak
subuh ! dalam rintik gerimis yang mulai membesar, Revan tetap memacu motornya.
Memastikan Keisha berangkat ke Sekolah bersamanya.
“ kamu sibuk apa
sich Van ! sejak Reihan pergi, kamu gak pernah ada waktu buat aku. “ Revan
membaca pesan Nindi, kekasihnya dengan perasaan bersalah. Dia tau, semua
waktunya sekarang hanya untuk menjaga Keisha, belum bisa terbagi dengan yang
lain. Bahkan kuliahnya pun terbengkalai,,,, dia harus bisa memastikan Keisha
akan baik-baik saja tanpa Reihan.
“ Ayo masuk dulu
Van ! “ Revan melangkah masuk. Sudah lama, sejak Reihan mengenal Keisha, dia
tidak pernah lagi dating ke rumah ini. Apalagi, Risya kakak Keisha sudah tidak
disini lagi. Melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.
“ Hari ini
Keisha gak masuk Sekolah, dia sakit ! jadi maaf ya, kamu udah jauh-jauh kesini
tapi Keisha gak berangkat Sekolah. “ yang di takutinya terjadi juga. Keisha
sakit,,,,,
“ Gak papa koq
tante ! boleh saya lihat keadaan Keisha….” Revan hanya menatap Keisha dari
kejauhan. Tapi ia gusar hanya bisa menatap saja, ia melangkah mendekat dan
menyentuh kening Keisha.
“ Rey… kamu
disini ! maaf, hati ku jadi sangat bermasalah kalau dekat-dekat sama kakak
kamu… “ dia masih menganggap Revan itu Reihan. Revan hanya terdiam, masih
memeriksa keadaan Keisha. Demamnya sangat tinggi….
“ Jangan bandel
ya kalau di kasih tau ! “ apa boleh buat, Keisha masih belum sadar sepenuhnya,
bahwa cowok di depannya itu bukan Reihan. Hanya ini yang bisa di lakukan Revan
untuk menenangkah perasaan Keisha….
“
Kenapa lo gak bisa jagain dia Kak ! kenapa sampai dia sakit…..” Revan
tersentak. Dia tidak sadar, dia tertidur saat menjaga Keisha….dadanya sakit,
kali ini sakitnya membuat sekujur tubuhnya tak bisa bergerak. Sangat sakit,
hingga tanpa sadar ia menangis…..
“ Allah….”
Rintihnya lirih. Tubuhnya terkulai lemah di lantai. Keisha terbangun, dia sadar
ada yang merintih kesakitan….
“ Kak ! “ seru
Keisha cemas. Dia menangis, menangis kebingungan, menangis ketakutan.
Revan mulai membuka matanya, dia
sadar ini bukan ruang kamarnya ! dadanya masih terasa sangat nyeri,,,,
“ Udah sadar ?!
“ Revan terdiam, bangkit dan melangkah keluar ruangan.
“ Mau kemana
?!?! apa gak bisa kamu istirahat sebentar….kamu bisa mati-matian jagain aku.
Sampai kuliah kamu terbengkalai, pacar kamu juga kamu cuekin, bahkan sampai
kamu sakit pun gak kamu perduliin. “ Revan membalikan badannya. Di peluknya
tubuh Keisha erat-erat…..
“ Apa gak cukup
semua pengorbanan itu untuk membuat Reihan tenang disana ! aku bersumpah, gak
akan aku biarin kamu terluka sedikitpun. Engga hati kamu, ataupun tubuh kamu.
Aku rela hidup ku berantakan atau bahkan hancur sekalipun, asal kamu baik-baik
saja. Karena bagi ku, kamu adalah kenangan dari Reihan yang masih bisa untuk ku
sentuh, bisa untuk ku lihat, dan bisa untuk ku amati. Aku bisa menjaga mu…. “
Keisha terdiam, tubuh Revan mulai melemah…
“ Aku pulang !
tolong jangan kemana-mana, hujannya masih turun. Aku gak mau kamu sakit lagi….
“Revan memaksakan diri untuk menemui orang lain. Dia tidak mau menyakiti
perasaan Nindi lebih dalam lagi.
“ Maaf ! aku
belum bisa kasih waktu buat kamu…. Aku harus tepatin janji aku dulu buat
Reihan…” Nindi beranjak dari duduknya. Matanya memancarkan kebencian yang
sangat kuat….
“ Aku tau dia
bukan hanya sekedar amanat dari Reihan, tapi dia juga pernah menjadi apa yang
sangat kamu inginkan…sangat kamu sayangi. “ Revan tertegun, dadanya terasa
sakit lagi. Suara Nindi timbul tenggelam dalam pendengarannya… pandangannya
mulai memudar. Hilang…. Dalam kegelapan…..
****
“ Kenapa Kak ?!
ada apa sama lo…. “ Reihan….
“ Rey…. Gue…
maaf, mungkin waktu gue juga udah gak lama….” Revan terdiam, menatap wajah
dingin Reihan yang bahkan tanpa ekspresi.
“ Lo harus
pulang ! lo gak bisa disini, ini bukan tempat lo…. Dia butuh lo di sisinya,,,,
tolong, jagain dia. “ Reihan menjauh, sesaat dada Revan seperti di hujan
sesuatu yang sangat keras. Sangat sakit hingga membuat bayangan Reihan
benar-benar hilang….
“ Kakak ! “
Keisha mendekap erat tubuh lemah Revan yang masih basah karena guyuran hujan.
Revan terdiam, membiarkan gadis itu melepaskan semua kegundahan hatinya,
melepaskan rasa ketakutannya. Jika memang ini cara yang bisa ia lakukan untuk
menjaga Keisha, Revan rela melakukannya. Membiarkan perasaan itu timbul
kembali…
“ Apa ini yang
kamu mau Key ?! cara inikah yang kamu inginkan agar aku bisa menjaga kamu…. “
Keisha tak menjawab. Hanya tatap matanya sudah cukup menjadi jawaban….
“ Kita akan cari
donor jantung buat kamu ! tolong, jangan lagi menggoreskan luka yang dalam di
hati ku…. Aku gak mau lagi merasakan kehilangan….
Revan terdiam, selesai membacakan
do’a untuk adik semata wayangnya….. Keisha menaburkan bunga di atas
peristirahatan terakhir Reihan. Tanah yang masih basah dan masih merah….
“
Gue mohon, izinin dia berada di samping gue Rey ! gue tahan cewe lo di samping
gue, se’enggaknya sampai dia bisa berdiri sendiri tanpa kita berdua. Karena gue
juga sadar, kemaatian itu mengintai gue setiap saat…. “
bisik Revan dalam hati. Menggenggam jemari tangan Keisha erat-erat. Menahan
semua rasa sakit yang menghujam dadanya, menggandeng gadis itu meninggalkan
masa lalunya dalam bingkai kenangan yang indah…
Reihan, inilah
yang bisa di lakukan untuk menjaganya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar