Jumat, 29 Maret 2013



JANJI CINTA UNTUK CINTA

Rasanya masih terasa sangat sesak setiap kali mengingat kejadian-kejadian hari itu. Bagaimana bisa semua itu terjadi ?!?! padahal rasanya baru sebentar saja dia bisa merasakan kehadiran Raihan di sampingnya, tapi sejurus kemudian dia tersadar semua itu hanyalah khayalannya semata….

‘ Engga ! ini gak mungkin…. “ pekiknya lirih. Lidahnya terasa sangat kelu, hingga dia tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Kelopak matanya yang sejak tadi memang sudah memanas, kini mulai meluapkan teter-tetes bening yang mengalir perlahan di kedua pipinya. Hatinya yang teriris dan tersayat tipis, terasa sangat pedih.

“ Ini kenyataannya, lo sama dia, bukan untuk bersama ! tolong ikhlasin dia… dia udah sangat menderita . dia juga gak ingin tinggalin lo sendirian, tapi ini memang udah waktunya, Keisha. “ gadis itu terdiam sejenak, mengusap air mata yang seakan tak pernah ingin kering.

“ Gue….. hiks… “ dia kembali menangis, mengurungkan niatnya. Tubuhnya terasa sangat dingin, beku dalam kepedihannya.

“ Untuk dia, Keisha ! ikhlasin dia… “ Revan menarik tangan kiri Keisha lembut, mengajaknya menemui Raihan. Kerongkongannya terasa sangat kering, hingga rasanya sangat sakit. Tangis yang sedari tadi di tahannya, pedih yang sengaja ia kubur sesaat hanya untuk menemui Raihan, kini seakan ingin menyeruak keluar. Sebisa mungkin ia menetralkan perasaan itu, ia hanya ingin melihat Raihan merasa tenang meninggalkannya sendirian. Tanpa rasa takut bahwa ia akan menjadi sangat rapuh tanpa orang yang sangat di sayanginya.

“ Gue datang Han ! “ ucapnya lirih dengan suara serak penuh kepedihan. Di cobanya tersenyum senatural mungkin, tersenyum untuk menenangkan hati Raihan.

“ Sori ! kalau nanti gue gak bisa tepatin janji gue ya Key…. “ Keisha mengangguk, membiarkan kekasihnya itu menatap wajahnya lekat-lekat untuk yang terakhir kali. Perlahan tapi pasti, genggaman tangan Raihan mulai terlepas, dan perlahan pula isak tangis Keisha memecah di dalam keheningan yang tercipta. Semua terdiam, hanya ada isak tangis Keisha yang terdengar di dalam ruangan itu. Isak tangis yang penuh luka dan kepedihan, tangis yang penuh dengan semua rasa penyesalan, tangis yang mengantarkan kekasihnya beristirahat dengan tenang. Tangis yang mengantarkan Raihan berada tenang dalam dekapan bumi, tangisan yang mengakhiri semua mimpi-mimpi indah mereka. Keisha terdiam, pandangannya mulai memudar ketika tanah merah itu mulai mendekap erat Raihan dalam keabadian.

“ Tenang Key ! “ ucap Revan lirih menangkap tubuh lemah Keisha yang limbung terhuyung ke belakang. Dia terus menangis, menangis dalam semua perasaan yang membuat dadanya kian terasa nyeri.



            Gerimis malam ini semakin mengiris perasaan kehilangan Keisha ! di ruangan lain, Revan terhenyak mengingat semua kata-kata Reihan. Dadanya memang masih terasa sangat sakit, jika mengingat apa penyebab adik nya meninggalkan mereka dengan sangat cepat.

“ Please, gue gak mau dia terluka Van ! “ pesan terakhir Raihan, semakin membuatnya teriris dalam. Harus bagaimana menjaga orang yang sangat di sayangi adik nya itu…..

“ Gue harus gimana ?!?!  “ desahnya pelan dalam gerimis yang kian memudar dalam kegelapan.

            Revan masih terlelap dalam balutan kegelapan ! semalaman dia terjaga, dan baru satu jam dia memejamkan matanya, setelah serangkaian kejadian hari ini yang membuat hatinya lelah. Akhirnya dia menyerah juga dengan rasa kantuk yang menyergap kedua matanya yang lelah terjaga.

“ Bangun Ka ! apa loe gak mau kirimin gue do’a… “ Revan tersentak. Secepat mungkin dia tersadar, menatap sekelilingnya… suara Reihan. Dia sangat yakin itu suara adiknya…..

Di lihatnya, jam sudah menunjukan pukul 04.50 ! dia segera terbangun dan mengambil air wudhu. Dia terduduk, membaca setiap ayat-ayat yang terukir rapih dalam al-qur’an. Dia masih terduduk di atas sajadah nya, perlahan kantuk kembali menyergapnya.

‘ Makasih ya kak ! “ dia tersentak lagi, lagi-lagi suara Raihan. Ach, mungkin hanya imajinasinya saja karena baru kehilangan Reihan.

            Revan standby di depan Sekolah Keisha, menunggu gadis itu keluar dari Sekolah. Dia harus bisa menepati janjinya kepada Reihan… meski pun kekasihnya mungkin akan sangat marah jika mengetahui dia lebih memilih menjemput gadis lain dari pada dirinya. Keisha mulai terlihat keluar dari gerbang, matanya terus mencari. Dan dia tersenyum tipis menemukan apa yang ia cari.

“ Kenapa kakak yang jemput ?! Reihan kemana…. “ gadis itu, dia masih belum bisa menerima dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Perlahan sinar matanya mulai memudar, mungkin kesadarannya sudah kembali. Reihan sudah tidak ada….

“ udahlah, ayo ! “ Keisha ragu, tapi cepat ia menurut saja.

“ Reihan, apa yang kamu mau dari aku dan kak Revan ?!?! aku tau, kamu mengetahui semua masa lalu dari perasaan ku sebelum mengenal kamu, tapi sadarkah kamu, kini hati ku hanya milik kamu. “ bisik Keisha lirih dalam hati. Sebisa mungkin ia menolak untuk mengembalikan perasaannya kepada Revan, meski jelas sangat jelas bahkan apa maksud dari keinginan Reihan.

“ kita makan dulu ya ! aku yakin, kamu pasti belum makan dari hari itu…. “ Revan berucap lirih. Keisha diam, tanpa ada niat untuk menjawab.

Keisha hanya mengaduk-aduk makanan di atas piringnya ! jangankan untuk makan, untuk hidup pun dia sangat enggan untuk melanjutkannya. Rasa kehilangannya, lebih besar dari pada rasa lapar atau rasa lelah yang menyergap tubuhnya.

“ Makan Key, dia Cuma gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu ! jangan kamu buat dia gak tenang disana…. “ gadis itu tertunduk. Ada tetesan air yang terjatuh di telapak tangannya… dia tau, setiap mengingat Reihan pasti rasa nyeri itu akan timbul kembali.

“ Aku gak bisa kak ! hati ku masih sangat letih dan sakit…..” Revan beranjak dari duduknya, menghampiri gadis itu, mengambil makanan di depan Keisha, memegang dagu Keisha lembut dan mengangkatnya…..

“ Biar aku yang paksa kamu makan ! aku udah janji bakal jagain kamu… aku gak mau sampe kamu sakit. “ Keisha terpaksa menelan suapan pertama dari Revan. Tapi kemudian hatinya bergemuruh hebat, disaat seperti ini bisa-bisanya perasaan itu hadir kembali. Diantara rasa sakit, kepedihan , kehilangan, kesepian, dan kebekuan, bisa-bisanya perasaan itu muncul menyeruak bersamaan dengan semua sikap Revan yang dingin tapi penuh rasa khawatir.

“ Udah Kak ! “ Keisha meninggalkan Revan sendirian,,,, cowok itu hanya tertegun, dia tau apa yang dirasakan oleh Keisha. Perasaan yang bisa membuat gadis itu semakin merasa bersalah….

            Gerimis pagi ini sudah turun sejak subuh ! dalam rintik gerimis yang mulai membesar, Revan tetap memacu motornya. Memastikan Keisha berangkat ke Sekolah bersamanya.

“ kamu sibuk apa sich Van ! sejak Reihan pergi, kamu gak pernah ada waktu buat aku. “ Revan membaca pesan Nindi, kekasihnya dengan perasaan bersalah. Dia tau, semua waktunya sekarang hanya untuk menjaga Keisha, belum bisa terbagi dengan yang lain. Bahkan kuliahnya pun terbengkalai,,,, dia harus bisa memastikan Keisha akan baik-baik saja tanpa Reihan.

“ Ayo masuk dulu Van ! “ Revan melangkah masuk. Sudah lama, sejak Reihan mengenal Keisha, dia tidak pernah lagi dating ke rumah ini. Apalagi, Risya kakak Keisha sudah tidak disini lagi. Melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.

“ Hari ini Keisha gak masuk Sekolah, dia sakit ! jadi maaf ya, kamu udah jauh-jauh kesini tapi Keisha gak berangkat Sekolah. “ yang di takutinya terjadi juga. Keisha sakit,,,,,

“ Gak papa koq tante ! boleh saya lihat keadaan Keisha….” Revan hanya menatap Keisha dari kejauhan. Tapi ia gusar hanya bisa menatap saja, ia melangkah mendekat dan menyentuh kening Keisha.

“ Rey… kamu disini ! maaf, hati ku jadi sangat bermasalah kalau dekat-dekat sama kakak kamu… “ dia masih menganggap Revan itu Reihan. Revan hanya terdiam, masih memeriksa keadaan Keisha. Demamnya sangat tinggi….

“ Jangan bandel ya kalau di kasih tau ! “ apa boleh buat, Keisha masih belum sadar sepenuhnya, bahwa cowok di depannya itu bukan Reihan. Hanya ini yang bisa di lakukan Revan untuk menenangkah perasaan Keisha….

“ Kenapa lo gak bisa jagain dia Kak ! kenapa sampai dia sakit…..” Revan tersentak. Dia tidak sadar, dia tertidur saat menjaga Keisha….dadanya sakit, kali ini sakitnya membuat sekujur tubuhnya tak bisa bergerak. Sangat sakit, hingga tanpa sadar ia menangis…..

“ Allah….” Rintihnya lirih. Tubuhnya terkulai lemah di lantai. Keisha terbangun, dia sadar ada yang merintih kesakitan….

“ Kak ! “ seru Keisha cemas. Dia menangis, menangis kebingungan, menangis ketakutan.

            Revan mulai membuka matanya, dia sadar ini bukan ruang kamarnya ! dadanya masih terasa sangat nyeri,,,,

“ Udah sadar ?! “ Revan terdiam, bangkit dan melangkah keluar ruangan.

“ Mau kemana ?!?! apa gak bisa kamu istirahat sebentar….kamu bisa mati-matian jagain aku. Sampai kuliah kamu terbengkalai, pacar kamu juga kamu cuekin, bahkan sampai kamu sakit pun gak kamu perduliin. “ Revan membalikan badannya. Di peluknya tubuh Keisha erat-erat…..

“ Apa gak cukup semua pengorbanan itu untuk membuat Reihan tenang disana ! aku bersumpah, gak akan aku biarin kamu terluka sedikitpun. Engga hati kamu, ataupun tubuh kamu. Aku rela hidup ku berantakan atau bahkan hancur sekalipun, asal kamu baik-baik saja. Karena bagi ku, kamu adalah kenangan dari Reihan yang masih bisa untuk ku sentuh, bisa untuk ku lihat, dan bisa untuk ku amati. Aku bisa menjaga mu…. “ Keisha terdiam, tubuh Revan mulai melemah…

“ Aku pulang ! tolong jangan kemana-mana, hujannya masih turun. Aku gak mau kamu sakit lagi…. “Revan memaksakan diri untuk menemui orang lain. Dia tidak mau menyakiti perasaan Nindi lebih dalam lagi.

“ Maaf ! aku belum bisa kasih waktu buat kamu…. Aku harus tepatin janji aku dulu buat Reihan…” Nindi beranjak dari duduknya. Matanya memancarkan kebencian yang sangat kuat….

“ Aku tau dia bukan hanya sekedar amanat dari Reihan, tapi dia juga pernah menjadi apa yang sangat kamu inginkan…sangat kamu sayangi. “ Revan tertegun, dadanya terasa sakit lagi. Suara Nindi timbul tenggelam dalam pendengarannya… pandangannya mulai memudar. Hilang…. Dalam kegelapan…..

****

“ Kenapa Kak ?! ada apa sama lo…. “ Reihan….

“ Rey…. Gue… maaf, mungkin waktu gue juga udah gak lama….” Revan terdiam, menatap wajah dingin Reihan yang bahkan tanpa ekspresi.

“ Lo harus pulang ! lo gak bisa disini, ini bukan tempat lo…. Dia butuh lo di sisinya,,,, tolong, jagain dia. “ Reihan menjauh, sesaat dada Revan seperti di hujan sesuatu yang sangat keras. Sangat sakit hingga membuat bayangan Reihan benar-benar hilang….

“ Kakak ! “ Keisha mendekap erat tubuh lemah Revan yang masih basah karena guyuran hujan. Revan terdiam, membiarkan gadis itu melepaskan semua kegundahan hatinya, melepaskan rasa ketakutannya. Jika memang ini cara yang bisa ia lakukan untuk menjaga Keisha, Revan rela melakukannya. Membiarkan perasaan itu timbul kembali…

“ Apa ini yang kamu mau Key ?! cara inikah yang kamu inginkan agar aku bisa menjaga kamu…. “ Keisha tak menjawab. Hanya tatap matanya sudah cukup menjadi jawaban….

“ Kita akan cari donor jantung buat kamu ! tolong, jangan lagi menggoreskan luka yang dalam di hati ku…. Aku gak mau lagi merasakan kehilangan….

            Revan terdiam, selesai membacakan do’a untuk adik semata wayangnya….. Keisha menaburkan bunga di atas peristirahatan terakhir Reihan. Tanah yang masih basah dan masih merah….

“ Gue mohon, izinin dia berada di samping gue Rey ! gue tahan cewe lo di samping gue, se’enggaknya sampai dia bisa berdiri sendiri tanpa kita berdua. Karena gue juga sadar, kemaatian itu mengintai gue setiap saat…. “ bisik Revan dalam hati. Menggenggam jemari tangan Keisha erat-erat. Menahan semua rasa sakit yang menghujam dadanya, menggandeng gadis itu meninggalkan masa lalunya dalam bingkai kenangan yang indah…

Reihan, inilah yang bisa di lakukan untuk menjaganya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar